by

Perjuangan Seorang Ibu PKL Kota Tua di Masa Krisis Akibat Pandemi

BENTARARAKYAT.COM, JAKARTA – Dimasa sebelum merebaknya pandemi Covid-19, ketika kita berkunjung ke Kota Jakarta, sering kita menemukan pedagang kaki lima (PKL) yang berada di kawasan Kota Tua. Banyak sekali pedagang yang saling berhimpitan satu sama lain. Hingga terlihat begitu padat sekali, beraneka macam dagangan dijejerkan oleh pedagang.

Kini Covid-19 telah menguasai ibu kota Jakarta, banyak pedagang yang gulung tikar dan meninggalkan kota. Lalu bagaimana pedagang yang masih bertahan dengan virus yang mematikan, bisa saja mengancam nyawa. Mereka terus bertahan hingga waktu yang belum bisa terjawab pasti, ekonomi dalam kehidupan mereka semakin jatuh. Seorang yang kuat akan bertahan, sedangkan yang lemah mereka menghindar dan menjauh. Pedagang yang bertahan kini membutuhkan banyak belas kasih dari pengunjung yang datang untuk membeli dagangannya.

Seorang ibu tua yang masih kuat dengan segala kekurangannya, kehidupan yang menyedihkan membuatnya terus bertahan dalam kerasnya ibukota Jakarta. Dengan berjualan merupakan kegiatan sehari-hari untuk mencukupi kebutuhannya.

Ibu Siti Mutmainah, 61 tahun seorang pedagang yang masih bertahan dengan rasa semangat yang tak pernah padam. Memiliki satu anak perempuan dan satu pria yang sudah berkeluarga tidak membuat seorang ibu tua itu meminta belas kasih dari anak-anaknya. Ia paham betul kedua anaknya sudah memiliki tanggungjawabnya masing-masing, maka dari itu ia tetap berjualan walaupun diusianya yang tak lagi muda.

Covid-19 yang terjadi di Indonesia tidak membuatnya lemah akan hadirnya virus tersebut. Kini ia hanya bersama suaminya yang bekerja sebagai tukang ojek online. Pendapatan sebagai ojek pun berkurang sangat drastis sekali.

Kesetian dan kesabarnnya kepada suami begitu dalam, ada hal buruk yang pernah terjadi padanya. Ketika ada pengkhianatan dalam kehidupannya, perselingkuhan yang dilakukan sang suami. Suaminya berpacaran dengan seorang pekerja sekskomersial (PSK) dan meninggalkan istri dan kedua anaknya bertahun-tahun. Suaminya lebih memilih dan menikahi seorang psk tersebut, kesedihan pun terjadi pada ibu Siti.

Ibu Siti miriplayaknya malaikat yang mampu membesarkan kedua anaknya dengan jerih payahnya sendiri, bekerja siang dan malam tanpa henti untuk memenuhi kebutuhan. Sebelum di Jakarta, ia sempat tinggal di Pamulang, Jawa Tengah, bekerja sebagai perajut anyaman bambu. Membuat alat-alat yang terbuat dari bambu, dalam pembuatannya pun membutuhkan bahan lain seperti tali yang digunakan untuk mengikat. Tak jarang jika tidak dapat membeli tali, ia mencari dipembuangan limbah pabrik yang tak jauh dari kediamannya.

Berpuluh tahun ditingalkan, karma pun datang pada suaminya, ia ditinggalkan istri yang bekerja sebagai psk. Kejadian yang menimpa membuat sang suami terpuruk dalam kegelapan. Tidak ada yang peduli diusianya yang tak muda lagi, namun ketika Ibu Siti dan kedua anaknya tahu bahwa sang suami tak lagi bersama istrinya. Ia sangat kaget bukan main, “kenapa bisa ia ditinggalkan istrinya itu,” ungkapan dalam hati.

Entah tidak memiliki malu atau tidak, karena sang suami datang kembali pada istri pertamanya. Untuk meminta belas kasih padanya dengan lantang sang istri menolaknya, namun kedua anaknya meminta kepada ibunya agar dimaafkan dan bisa kembali seperti dahulu. “Mak, kasihan bapak, sudah tua tidak ada yang merawatnya,” ujar sang anak. Dengan rasa terpaksa Bu Siti akhirnya menerimakembali sang Suami.

Ibu Siti sangat sabar dalam menjalani kehidupan, bahkan ketika sang suami sudah kembali dan masih berkomunikasi dengan seorang psk yang sudah menjadi mantannya. Bu Siti hanya mengharapkan lillah, pahala yang besar jika menjalaninya dengan ikhlas. Ia hanya merawat dan merasa kasihan saja, jika sang suami melakukan tindakan seperti itu kembali tidak masalah.

Pada masa pandemi membuat Bu Siti begitu sedih, karena pendapatan berjualanya berkurang sekali bahkan ia pernah dalam sehari tidak mendapatkan pendapatan. Bu Siti berdagang sebagai penjual minuman kopi hangat kepada pengunjung Kotu. Keringat yang tercucur dapat terlihat begitu jelas di keningnya, bukti mendapatkan uang halal begitu berat sekali. Harga yang ditawarkan lumayan terjangkau, Covid-19 membuatnya semakin berat.

Air mata yang selalu membasahi pipinya, jangankan untuk membayar kontrakan yang selama ini ia dan suami tinggali untuk makan saja sangat sulit. Sang pemilik kontrakan mengerti akan apa yang terjadi pada Bu Siti, dengan ikhlas menerima seberapa saja.Untuk memenuhi kebutuhan pokok Bu Siti, ada warga sekitar yang seringkali membagi rezeki kepadanya.

Bekerja lebih keras pada masa pandemi Covid-19, sosok yang kuat dalam menjalani kehidupan, jiwa yang tangguh jarang dimiliki orang lain. Mungkin jika istri lain jarang sekali ingin kembali pada mantan suami yang telah menelantarkannya, namun kisah itu terjadi pada Bu Siti. Kembalinya sang suami bukan karena bertaubat, namun mengharapkan belas kasih untuk merawatnya. Dengan keikhlasannya Bu Siti menerima kembali walaupun berat untuknya./Nur Alam.

loading...

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed